MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN MENTAL

 




Akhir-akhir ini, kita sering disuguhi dengan pemberitaan yang menjurus kepada kejahatan moral dan sosial yang semakin marak terjadi. Pertikaian, pembunuhan, kerusakan moral, saling fitnah, dan kejahatan lain yang didasari oleh rasa iri, dengki, serta egois dapat menjadi bukti bahwa manusia semakin sulit mengendalikan hawa nafsunya.

Manusia sebagai makhluk yang memiliki banyak emosi, tentu pernah merasakan betapa sulitnya mengendalikan diri dan hawa nafsu. Perasaan-perasaan tertentu yang diungkapkan secara berlebihan juga menjadi salah satu akibat dari emosi yang tak teratur. Ini akan menimbulkan ketidaktenangan dalam jiwa manusia, dan mempengaruhi kesehatan mental. Untuk dapat menjalani kehidupan sehari-sehari dengan tenang, manusia mengharapkan kestabilan dalam kesehatan mentalnya. Kestabilan ini dapat diraih dengan mengontrol emosi dan pikiran-pikiran diri sendiri, serta menjaga kesehatan mental.

Kesehatan mental berkaitan dengan jiwa. Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi kejiwaan dalam rangka menyelesaikan masalah yang timbul di diri manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup. Kesehatan mental diperoleh dari jiwa yang tenang. Jiwa yang tidak tenang atau tidak tenteram karena stress, gelisah, terbebani, dan banyak pikiran dapat menimbulkan terganggunya kontrol emosi. Itulah mengapa orang yang jiwanya sedang tidak tenang akan lebih mudah marah dan temperamental. Terganggunya kesehatan mental dapat mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya dan orang lain, seperti menyakiti diri sendiri, mudah putus asa, depresi sehingga harus mengonsumi obat terlarang, mencari pelampiasan kesenangan dengan perilaku yang meresahkan masyarakat, dan lain sebagainya.

Umat Islam sendiri memiliki saat dimana mereka diharuskan untuk mengontrol emosi, yaitu ketika berpuasa di bulan Ramadhan. Secara bahasa, puasa berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahri, disertai dengan niat dan beberapa syarat. Sedangkan menurut istilah, puasa berarti menahan dan mengendalikan diri dari makan, minum, dan sifat-sifat yang tidak terpuji, seperti marah berlebihan, berbicara kasar, menggunjing, serta merugikan orang lain dan diri sendiri.  

Puasa memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, baik secara fisik maupun psikis. Manfaat puasa bagi kesehatan fisik antara lain: Mencegah penyakit jantung, menghindarkan penyakit diabetes, menurunkan berat badan, membantu menghilangkan kecanduan, baik kopi maupun rokok, dan menambah sel darah putih. Sedangkan untuk kesehatan psikis, puasa dapat membantu meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah SWT, mengontrol emosi dan amarah, menambah kepedulian terhadap sesama, serta meningkatkan kecerdasan.

Lalu apa hubungan manfaat puasa dengan kesehatan mental? Sebelumnya, mari kita pahami tentang kesehatan mental. Kartini Kartono dan Jenny Andarin sebagai ahli psikologi dan kesehatan mental mengatakan bahwa pribadi dengan kesehatan mental yang stabil dan sehat akan dapat melakukan kesehariannya dengan baik, dapat dengan mudah diterima masyarakat, serta menjalani hidup sesuai dengan norma yang berlaku. Beberapa karakteristik kesehatan mental yang umumnya diketahui yaitu, kemampuan dan ketenangan batin dalam melaksanakan kewajiban, menerima keadaan dirinya apa adanya, kemampuan bertanggung jawab, memiliki hubungan sosial yang baik, mempunyai rasa kasih sayang yang besar, bebas dari perasaan cemas, dan dapat menerima kekecewaan sebagai bahan pembelajaran di kemudian hari.

Puasa mengharuskan kita untuk mengontrol hawa nafsu dan mengendalikan emosi. Ketika nafsu berbicara, seringkali manusia dibutakan sehingga melakukan apa saja untuk menuruti keinginannya tersebut. Namun, saat puasa, kita secara inisiatif akan berusaha mengendalikan hawa nafsu, sehingga tidak mudah terjerumus ke perbuatan dosa yang dilarang agama. Pengendalian ini dapat memberikan rasa tenang terhadap jiwa, terutama ketika emosi-emosi yang berlebihan dapat ditahan. Kesehatan mental pun bisa diraih karena jiwa orang yang dapat mengendalikan diri akan lebih tenang dan tenteram.

Puasa dapat meningkatkan rasa simpati dan kepedulian terhadap orang lain. Selama berpuasa, kita dituntut untuk menahan lapar dan haus, yang mana dapat menyadarkan bahwa banyak orang di luar sana yang seringkali mengalami kekurangan. Maka berpuasa dapat memotivasi kita untuk berbagi dengan orang lain. Puasa juga dapat mengurangi risiko depresi. Ketika berpuasa, kegiatan ibadah dilakukan lebih sering dan lebih baik dibanding hari biasa. Ini menyebabkan turunnya risiko depresi yang menimpa seseorang. Selama beribadah dan membiasakan kebiasaan positif, suasana hati dapat menjadi lebih tenang.

Selain itu, untuk memperkuat alasan bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan mental, dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh guru besar rumah sakit jiwa di Moskow, bernama Nicolayev. Nicolayev bereskperimen dengan menerapkan puasa 30 hari pada pasien sakit jiwa, yang ternyata dapat sembuh setelah eksperimen tersebut. Ini membuktikan bahwa puasa memiliki pengaruh baik bagi kejiwaan seseorang.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan mental karena ketika berpuasa, kita dituntut untuk menahan hawa nafsu dan mengendalikan emosi, sehingga kesabaran meningkat, risiko depresi berkurang, dan kepedulian terhadap sesama bertambah. Efek-efek yang dirasakan ketika berpuasa ini menimbulkan rasa tenang di dalam diri, sehingga mental semakin sehat serta stabil, dan dapat menjalani keseharian dengan normal.

 

Sumber:

Jurnal Psikolog Kejiwaan Orang yang Berpuasa oleh Fatimahhakki Salsabela, S. Psi, sebagai Pemerhati masalah psikologi kesehatan masyarakat

Jurnal Puasa dan Pengendalian Diri Perspektif Kesehatan Mental, oleh Chairul Hana Rosita, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

https://www.halodoc.com Ini Manfaat Puasa bagi Kesehatan Mental dan Jiwa oleh Dr. Gabriella Florencia

Komentar

Postingan Populer