Cerpen "Aku Benci Rumah"
AKU BENCI RUMAH
Karya Kirana Ayudifa
Kubuka pintu rumah baru yang
dibeli Ayahku bulan lalu. Perabotan rumah sudah lengkap. Tatanan ruang disusun
dengan sangat rapi, bergaya klasik nan mewah. Tangan Ibu tiriku menyulap rumah
yang tadinya kosong ini menjadi terasa megah. Memang, Ibu baruku itu sangat
menyukai segala hal yang berbau kemewahan, buktinya ia baru mau menerima
pinangan saat Ayahku telah naik jabatan sebagai Direktur Marketing di
kantornya. Bukannya aku membencinya, hanya saja ia terlalu ‘berbeda’ dan
kontras dengan suasana keluarga kami beberapa tahun lalu, saat Ayah dan Ibu
kandungku masih bersama.
Sebelumnya, keluargaku lebih
menyukai kesederhanaan. Kami begitu menghargai kebersamaan dan perasaan hangat
yang ditimbulkan darinya. Kami kurang suka furniture yang terlalu mencolok, bahkan
tidak ada barang di rumah lamaku yang berbahan dasar keramik. Kami selalu
menanamkan hidup hemat. Kami kurang suka keramaian dan lebih suka ketenangan,
sampai saat dimana Ayah dan Ibu mulai sering bertengkar, berteriak satu sama
lain. Aku yang saat itu masih berusia 16 tahun, sebagai remaja polos yang
menikmati hidup tenang selama ini, merasa bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa Ayah dan Ibuku yang sering saling melempar pujian kini malah saling melempar
tuduhan?
Dan kemudian baru kuketahui bahwa
Ayah merasa cemburu ketika Ibu menemui teman pria SMA-nya. Sejak menghadiri
reuni sekolah, Ibu memang sering keluar untuk berkumpul lagi dengan teman
lamanya. Entah benar atau tidak, tapi Ayah menuduh bahwa Ibu hanya menemui pria
itu, berdua saja. Ibu terus menerus melakukan pembelaan dan berkata bahwa ada
banyak teman lain yang ikut setiap kali pertemuan, namun Ayah sudah terlanjur
marah. Ayah selalu seperti itu. Saat marah, matanya berapi-api, seperti orang
tak sadar, seperti kesurupan. Hingga berulang kali perdebatan itu terjadi,
akhirnya Ibu memutuskan berpisah. Ayah menerimanya. Mereka berdua bahkan tidak
membicarakannya denganku. Ibu hanya tiba-tiba menghilang dari rumah, lalu
mengabarkan lewat telepon bahwa mereka telah berpisah. Ayah jadi lebih sering
di luar. Hingga tiga bulan lalu ia membawa calon istri barunya ke rumah,
memperkenalkannya denganku. Aku yang sebenarnya masih menyimpan luka temaram
dan bahkan tak seorang pun dari mereka menyadarinya.
“Eh, Cia udah pulang?” Sosok yang
sampai sekarang masih kupanggil ‘Tante’ itu sedang membaca majalah di sofa
ruang TV ketika aku baru pulang dari kampus.
Aku hanya tersenyum, lalu
langsung menuju kamarku. Sudah ada tiga bulan sejak aku tinggal bersamanya. Ia
sempat menempati rumah lama kami sebentar, sebelum akhirnya terus membujuk Ayahku
untuk membeli rumah baru yang lebih besar. Seperti kubilang sebelumnya, aku
tidak membencinya. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa aku masih kesal, benci, dan
marah untuk menerima kenyataan bahwa ia masuk ke dalam keluargaku begitu saja,
merusak tatanan suasana yang telah lama membelaiku. Mengubah Ayah menjadi sosok
yang hanya menurut padanya, mudah dIbujuk olehnya, gila harta, dan yang lebih
parah, menjadi lebih tidak peduli padaku. Berbeda 180 derajat dengan pribadi
hangat Ayah dulu.
“Cia, Ayahmu--”
“Tante Rina kalau mau masuk ketuk
dulu, boleh?” Aku terkejut dan kesal saat Ibu tiriku itu membuka pintu kamarku
begitu saja tanpa aba-aba. “Aku kaget soalnya.” Kulemparkan sekilas senyum
palsu ke arahnya.
Ia terdiam. Wajahnya biasa saja,
tapi hembusan nafasnya terdengar kesal.
“Ada apa, Tante?” Aku masih tak
berniat menatapnya, lagipula layar laptopku jauh lebih menarik saat ini.
“Ayahmu pulang telat. Jadi Ibu ga
masak siang, nanti malam kita makan di luar. Kamu kalau lapar pesan aja pakai
aplikasi.” Tukasnya cepat. Ia lalu menutup pintu kamarku dengan agak keras.
Aku tidak terkejut. Ia memang
jarang sekali masak di rumah. Ia sangat suka mengajak Ayahku makan di
tempat-tempat yang disarankan teman sosialitanya.
“Hah..” Kubuang nafas kasar, lalu
berbaring di kasur. Menatap langit-langit kamar baru dengan dekorasi mewah dan
lampu besar menggantung di sana. Lampu, dekorasi, dan semuanya dipilih sendiri
oleh wanita itu. Aku menolak awalnya, namun Ayah bersikeras harus menyamakan
semua dekorasi di rumah baru ini.
Jujur, aku benci rumah ini.
Meskipun dua kali lebih besar, lebih luas, dan lebih lengkap dari rumah lama,
aku tetap membencinya. Suasana rumah baru ini tak pernah terasa hangat sejak
pertama ditempati. Suasana klasiknya malah memberi kesan suram karena Ibu
baruku tidak suka warna cerah. Hanya ada dua asisten rumah tangga, yang sering
kuajak bercerita jika bosan. Ayah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk
bekerja, jarang di rumah. Tante Rina tidak bekerja, namun ia sering keluar
untuk belanja barang bermerk. Ia juga banyak menghabiskan waktu di rumah dan
mengundang teman-temannya untuk melakukan entah apa aku tak pernah mau tahu.
Kau pikir aku yang cuek? Hah!
Sejak pertama Tante Rina dikenalkan padaku aku sudah bersikap baik dan mencoba
ramah, mencoba seolah menerimanya. Hanya saja ia seperti tidak menginginkan
kehadiranku. Ia pernah berkata bahwa aku seharusnya ikut Ibu kandungku saja,
bukan malah membebani Ayahku yang saat itu merupakan calon suaminya. Ia juga
berkata bahwa jika tidak ada aku, ia akan lebih banyak mendapat perhatian dan
tentu saja, uang. Sikap kejamnya seolah menghilang jika kami bertiga bersama. Ayahku
dengan mudahnya tertipu dengan lakon wanita yang seolah peduli padaku.
Memikirkannya membuat kepalaku
pusing. Mentalku belum kembali normal saat Ibu kandungku pergi begitu saja
tanpa memberi penjelasan, saat Ayahku menikah lagi dengan seorang yang belum
siap menjadi Ibu. Dan sekarang aku masih harus berhadapan dengan wanita itu
dalam waktu lama.
Aku beranjak dari kamar menuju
dapur, ingin mengambil minum. Bahkan menginjakkan kakiku di dapurnya pun
membuatku kesal. Semua bagian di rumah ini membuatku kesal. Aku selalu merasa
marah tiap kali pulang ke rumah. Kamar mandi, ruang tamu, parkiran, semua
tempat dan barang-barang di rumah ini seolah mengejekku. Seolah tidak menyukai
kehadiranku, seolah ingin mengusirku. Itulah mengapa aku lebih suka menghabiskan
waktu di kamar.
Sebenarnya sore kemarin, aku
mendapat telepon dari Ibu kandungku. Ia berkata bahwa kami harus bertemu berdua
untuk meluruskan semuanya. Aku masih merasa kesal dengan kepergiannya yang
mendadak tanpa mengabari lagi. Maka segera kututup panggilannya. Tapi sekarang
aku kembali memikirkan, apa yang ingin Ibuku katakan. Apakah ini akan membuat
keadaan menjadi lebih baik atau buruk.
“Besok ikut Ibu sama Ayah liburan
ke luar kota. Gak usah kuliah. Ayahmu ga bakal mau diajak kalau kamu ga ikut.”
Tante Rina tiba-tiba menghampiriku di dapur.
“Gak bisa gitu dong, Tante! Aku
besok mau ada kuis.” Aku kesal, sehingga tanpa sadar meninggikan suara.
“Yaudah kalau ga mau ikut bilang
sama Ayahmu. Kenapa, sih susah banget diatur?” Tak kusangka, Tante Rina juga
meninggikan suaranya, marah.
Aku segera menuju kamarku
kembali, membanting pintunya. Setelah ini, aku tersadar bahwa yang aku benci,
yang membuatku marah setiap kali pulang bukanlah rumah ini. Tapi suasana di
dalamnya. Kenyataan bahwa aku hanyalah ‘tamu’ di rumah ini, kehancuran keluarga
asliku yang masih mengguncang mental, dan sikap Tante Rina yang tak menerimaku.
Hal yang sebenarnya membuatku kesal, bukan rumah baruku. Bukan rumah megah ini.
Bukan dekorasinya.

Komentar
Posting Komentar